HULU GURUNG – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PP dan KB) Kabupaten Kapuas Hulu melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) terus menggencarkan upaya penemuan kasus Tuberkulosis (TB) secara aktif di tengah masyarakat.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui kegiatan Tracking Tuberkulosis (TB) Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilaksanakan di Desa Karya Mandiri, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Kepala Dinkes PP dan KB Kabupaten Kapuas Hulu, H. Sudarso, S.Pd., M.M., bersama Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Benidiktus Aphau, S.K.M., Ketua Tim Kerja Penyakit Menular Rustam Effendi, A.Md.Kep., beserta jajaran staf.
Turut hadir Dokter Spesialis Paru dr. M. Reza A., Sp.P., Kepala Puskesmas Hulu Gurung beserta jajaran, pihak Kecamatan Hulu Gurung, pemerintah desa, kader kesehatan, serta masyarakat Desa Karya Mandiri yang mengikuti pemeriksaan CKG dan tracing TB.
Dalam sambutannya, Kepala Dinkes PP dan KB Kapuas Hulu H. Sudarso mengatakan, TB masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang membutuhkan perhatian dan kerja bersama. Penularan penyakit tersebut dapat terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakat, terutama apabila kasus tidak ditemukan dan ditangani sejak dini.
Menurutnya, penanggulangan TB tidak cukup hanya dengan menunggu masyarakat datang berobat ke fasilitas kesehatan. Diperlukan upaya penemuan kasus secara aktif melalui tracing atau investigasi kontak terhadap pasien TB maupun orang-orang yang memiliki risiko tertular.
“Upaya penanggulangan TB tidak cukup hanya menunggu masyarakat datang berobat. Kita perlu melakukan penemuan kasus secara aktif, termasuk melalui tracing atau investigasi kontak terhadap pasien TB dan orang-orang yang memiliki risiko tertular,” ujar Sudarso.
Ia menjelaskan, integrasi tracing TB dengan CKG menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan skrining kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan umum, tetapi juga dapat dilakukan skrining TB sesuai dengan alur pelayanan yang berlaku.
Masyarakat yang ditemukan memiliki gejala atau faktor risiko TB selanjutnya diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Dengan demikian, proses penanganan diharapkan tidak berhenti pada tahap skrining.
“Prinsip yang harus kita pegang adalah skrining, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, dan pemantauan sampai selesai. Jangan sampai kegiatan berhenti pada tahap skrining saja,” tegasnya.
Sudarso menekankan, setiap orang yang teridentifikasi sebagai terduga TB harus dipastikan memperoleh pemeriksaan lanjutan. Sementara pasien yang terbukti menderita TB harus mendapatkan pengobatan sesuai standar dan pendampingan hingga tuntas.
Ia juga mengajak pemerintah desa, puskesmas, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, serta seluruh masyarakat untuk bersama-sama memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian TB.
Menurutnya, pemerintah desa memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan tracing dan skrining, menggerakkan masyarakat mengikuti CKG, membantu kader melakukan edukasi dan pelacakan kontak, serta mendorong masyarakat agar tidak takut menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Kita berharap Desa Karya Mandiri dapat menjadi contoh bahwa penanggulangan TB merupakan tanggung jawab bersama. Desa bukan hanya menjadi tempat dilaksanakannya kegiatan, tetapi menjadi mitra penting dalam menemukan dan mencegah penularan TB,” katanya.
Selain itu, Sudarso mengingatkan pentingnya peran kader kesehatan yang berada dekat dengan masyarakat. Kader dapat membantu memberikan edukasi, mengidentifikasi masyarakat yang memiliki gejala maupun faktor risiko, mengingatkan kontak erat pasien TB untuk melakukan pemeriksaan, serta mendukung kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak memberikan stigma terhadap pasien TB. Menurutnya, TB merupakan penyakit yang dapat disembuhkan apabila ditemukan dan diobati dengan benar.
“TB bukan penyakit yang harus disembunyikan. TB dapat disembuhkan. Semakin cepat seseorang diperiksa dan mendapatkan pengobatan, semakin besar peluang untuk sembuh dan semakin kecil risiko penularannya kepada keluarga maupun orang di sekitarnya,” jelasnya.
Kepada seluruh petugas pelaksana, Sudarso meminta agar kegiatan tracing TB dilaksanakan secara aktif, cepat, tepat, dan berkesinambungan, termasuk dalam pencatatan serta pelaporan hasil kegiatan.
“Prinsipnya, aktif menemukan, cepat memeriksa, tepat mengobati, dan tuntas menindaklanjuti. Yang tidak kalah penting adalah menjaga kerahasiaan dan martabat masyarakat maupun pasien agar kegiatan tracing tidak menimbulkan stigma dan diskriminasi,” pesannya.
Ia berharap kegiatan Tracing TB Terintegrasi CKG di Desa Karya Mandiri tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
“Mari kita sukseskan CKG sekaligus memperkuat penanggulangan TB di masyarakat. Temukan, obati, sembuhkan, dan putus rantai penularan TB,” pungkasnya. (*)